Informed Consent sebagai Perlindungan Hukum bagi Dokter dan Pasien dalam Langkah Antisipasi Potensi Terjadinya Sengketa Medis di Rumah Sakit
DOI:
https://doi.org/10.62383/prosemnashuk.v2i2.74Keywords:
Hospital, Informed Consent, Medical Dispute, Medical Doctor, Medical PersonnelAbstract
Informed consent constitutes a fundamental legal and ethical requirement in healthcare services, ensuring that every medical action is performed with the patient’s full awareness and voluntary approval. In Indonesia, the obligation to obtain informed consent is firmly regulated under the Health Law No. 17 of 2023, the Minister of Health Regulation on Medical Consent, and provisions on medical records. This paper examines the essential role of informed consent as a protective instrument for both patients and healthcare providers within the clinical and legal framework. Informed consent guarantees patients’ rights to information, autonomy, and decision-making, while providing legal safeguards for medical practitioners by documenting the process of explanation, acceptance, or refusal of medical treatment. Proper documentation within medical records ensures accountability, continuity of care, and serves as crucial evidence when medical disputes arise. Medical disputes often stem from dissatisfaction, communication gaps, or misunderstandings about risks inherent in medical procedures. Therefore, informed consent functions not merely as an administrative requirement but as a mechanism for preventing conflict, clarifying responsibilities, and distinguishing unavoidable medical risks from professional negligence. By strengthening the implementation of informed consent, healthcare providers can enhance transparency, improve service quality, and reduce the likelihood of medical litigation.
Downloads
References
Adhani, R. (2018). Mengelola rumah sakit. Lambung Mangkurat University Press.
Adriana Pakendek, A. P. (2012). Informed consent dalam pelayanan kesehatan. AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial, 5(2), 309–318. https://doi.org/10.19105/al-lhkam.v5i2.296
Amy Rahmadaniah Safitri. (2022). Tinjauan kelengkapan pengisian rekam medis rawat inap di Rumah Sakit As-Syifa Bengkulu Selatan. Indonesian Journal of Health Information Management, 2(1). https://doi.org/10.54877/ijhim.v2i1.39
Asriani, A., & Putrawan, A. (2025). Manajemen komplain sebagai upaya meningkatkan kepuasan pasien di rumah sakit. Jurnal Teknologi dan Sains Modern, 2(1), 39–47. https://doi.org/10.69930/jtsm.v2i1.313
Eka Pratama, C. A., & Ngadino, N. (2022). Kedudukan informed consent sebagai perlindungan hukum hubungan dokter dan pasien dalam kasus malpraktek. Notarius, 15(1), 241–252. https://doi.org/10.14710/nts.v15i1.46038
Elvandari, S. (2021). Hukum penyelesaian sengketa medis di Indonesia. Rajawali Pers.
Gosal, V. H. R., Manampiring, A. E., & Waha, C. (2022). Perilaku profesional tenaga medis terhadap tanggung jawab etik dan transaksi terapeutik dalam menjalankan kewenangan klinis. Medical Scope Journal, 4(1), 1. https://doi.org/10.35790/msj.v4i1.41689
Kasiman, K. (2023). The role of informed consent against doctor’s legal protection in health services. SOEPRA, 9(1), 1–8. https://doi.org/10.24167/sjhk.v9i1.8715
Kristiawan, A. P. (2021). Kedudukan hukum informed consent dalam pemenuhan hak pasien di rumah sakit. Jurnal Hukum dan Dinamika Masyarakat, 19(1).
Lensoen, A. A. (2023). Risiko medis dan kelalaian medis dalam aspek pertanggungjawaban pidana dan perdata (Medical risk and medical negligence in the aspect of criminal and civil liability). CV Adanu Abimata.
Maikel, M. P. (2021). Aspek hukum penolakan protokol kesehatan di era pandemi COVID-19. Jurnal Hukum Kesehatan Indonesia, 1(01), 24–32. https://doi.org/10.53337/jhki.v1i01.3
Maria Latifa Tsanie. (2023). Tinjuan yuridis risiko medis terhadap persetujuan dokter kepada pasien atas tindakan medis. ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 1(1), 148–165. https://doi.org/10.59246/aladalah.v1i1.161
Muhaimin. (2020). Metode penelitian hukum. Mataran University Press.
Putra, R. K., Kalsum, U., Gusmarani, R., & Sony, E. (2024). Efektivitas penyelesaian sengketa secara non litigasi. Jurnal Kolaboratif Sains, 7(6). https://doi.org/10.56338/jks.v7i6.5548
Radbruch, G. (2006). Five minutes of legal philosophy 1945. Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 13–15. https://doi.org/10.1093/ojls/gqi042
Santoso, A. D., , I., & Sulistiyono, A. (2019). Penyelesaian sengketa medik melalui mediasi oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) untuk dapat menjamin keadilan dalam hubungan dokter dan pasien. Jurnal Hukum dan Pembangunan Ekonomi, 7(1), 29. https://doi.org/10.20961/hpe.v7i1.29176
Takdir. (2018). Pengantar hukum kesehatan. Lembaga Penerbit Kampus IAIN Palopo.
Triana, Y., Irawan, T., & Santoso, A. H. (2023). Informed consent dalam melindungi perjanjian medis antara dokter dengan pasien di rumah sakit. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 5(1). https://doi.org/10.31004/jpdk.v5i1.11098
Ummah, N., Wiryani, F., & Najih, M. (2019). Mediasi dalam penyelesaian sengketa medik dokter dengan pasien (Analisis putusan PN No. 38/PDT.G/2016/PN.BNA dan putusan Mahkamah Agung No. 1550 K/PDT/2016). Legality: Jurnal Ilmiah Hukum, 27(2), 205–221. https://doi.org/10.22219/ljih.v27i2.10158
Wirabrata, I. G. M. (2020). Tinjauan yuridis informed consent dalam perlindungan hukum bagi pasien dan dokter. Jurnal Analisis Hukum, 1(2), 278. https://doi.org/10.38043/jah.v1i2.416




